Kamis, 05 Januari 2017

MANUSIA MAKHLUK PENELITI



MANUSIA MAKHLUK PENELITI
Jika kita bicara tentang manusia sebagai makhluk peneliti. Manusia memang telah menjadi peneliti yang paling ulung. Semua hal yang ada sekarang, semua yang kita nikmati sekarang adalah hasil-hasil dari penelitian yang dilakukan manusia berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun. Namun sebagai makhluk Allah, kita tidak hanya menjadi kaya dalam hasil penelitian dalam duniawi. Ada kalanya kita harus tetap mengkaji islam sampai kita mengerti betul dan memahami apa yang menjadi kehendaknya dan apa yang menjadi larangannya.

      Namun, dalam kehidupan sekarang dapat kita lihat bagaimana sikap manusia sendiri. Mereka lebih menyakini apa yang disebutkan oleh para pakar-pakar dalam keilmuan mereka masing-masing tanpa menelaahnya kembali. Tentu dengan alquran dan hadist. Dengan begitu kita dapat akan mendapat ilmu yang benar-benar bermanfaat.

Tahukah kalian, mengapa hampir semua peneliti yang sudah menemukan hasil telitiannya memutuskan untuk masuk islam? Karena mereka telah mendapat rahmat dan dibukakan hatinya oleh Allah dengan cara mereka mengetahui kebenaran yang sebenar-benarnya dari Al-Qur'an dan As-sunnah yang mereka coba cocokkan.  Masih ingatkah firman Allah yang berbunyi.
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
.
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya”[1] (QS: Yunus: 99)

Sebagai contoh adalah kebenaran yang telah dibuktikan oleh salah satu lembaga antariksa tebersar kita saat ini, NASA. Yaitu, bahwa benar adanya matahari akan terbit dari barat. Adalah seorang ilmuwan fisika ukrain. Dimitri Bolykov yang akhirnya diberikan rahmat oleh Allah. Beliau menyatakan keislamannya setelah menemukan bahwa putaran poros bumi kelak akan berbalik arah ini sesuai dengan sebuah hadist yang berbunyi.
““Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Dan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah).

Dan masih banyak lagi sebenarnya mukjizat Allah yang sudah terbukti. Namun, kita masih saja menyatakan islam hanya di bibir, naudzubillah. Padahal kita sudah diberi kesempatan oleh Allah dengan banyak tebuktinya firman-firman-Nya.
  1. Konsep Dasar Melakukan Penelitian
Konsep Dasar yang dimaksudkan disini adalah bagaimana cara kita untuk memehami, mempelajari suatu objek penelitian. dan untuk mendapatkan suatu hasil penelitian. Dan tidak hanya dengan hanya memahami dan mempelajari saja kita harus mempunyai ciri - ciri yang dapat memicu penelitian dann penelitian itu harus dengan beberapa pendekatan karena apa jika kita tidak memiliki pendekatan sebelum meniliti maka kita tidak akan menemukan hasilnya seperti sudah saya singgung diatas kalau kita itu harus memahami dan memehami suatu objek penelitian agar mendapatkan hasil penelitiannya.
     
      2.  Kewajiban Meneliti

Berbicara tentang mausia, manusia adalah mahkluk berpikir yang sempurna karena kelebihan ini sudah diberi oleh Allah sejak lahir dan sekarang tentu saja tergantung kepada manusianya sendiri bagaimana manusia tersebut menggunakan pikirannya. Dan sekarang kita beralih ke pokok pembicaraan mengapa manusia itu berkewajiban untuk meneliti? karena menurut saya  manusia berkewajiban meneliti agar mengetahui apakah benar adanya seperti itu yang sudah saya dapat disekolah, dan jika masih ada yang meragukan hal itu maka pasti orang tersebut akan membuat penelitian tentang keraguannya agar dia mendapatkan jawaban yang benar. Dan penelitian itu tidak hanya untuk mendapatkan hasil yang mau dibuktikan tetapi penelitian itu juga dapat menemukan sesuatu yang baru.

     3. Derajat Manusia di sisi Allah

Berbicara tentang derajat manusia disisi Allah tentu saja sama karena Allah itu tidak membeda - bedakam umatnya misalnya saja karena dia kaya atau miskin tetapi Allah akan menilai umatnya dari amal dan perbuatannya. Jika amal dan perbuatannya itu baik maka Allah akan memberikan imbalan pahala yang lebih banyak kepada umat tersebut, dan sebaliknya jika amal dan perbuatan seseorang itu buruk maka itu akan berdampak pada pahalanya., Kenapa demikian?? karena jika menginginkan pahala yang banyak maka kita harus menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dan sekali lagi saya ingatkan bahwa Allah itu tidak membeda - bedakan umatnya dan Allah itu menyetarakan semua umatnya disisi Allah. Dan yang membedakan hanyalah dari amal dan perbuatannya saja.

     4. Kewajiban Melakukan Pendekatan Islami dalam Kegiatan Ilmiah 

Seperti yang sudah saya singgung tadi kalau pendekatan itu sangat penting dalam penelitiasn dan sekarang kita beralih pada kewajiban melakukan pendekatan islami dalam kegiatan ilmiah itu jugab sangat penting karena apa, karena kita sebagai seorang islam harus mengetahui apa - apa saja yang harus atau wajib untuk dilkukan mengenai pendekatan islami dalam kegiatan ilmiah. Dan kita itu harus mengetahui kalau melakukan kegiatan ilmiah itu harus dengan konsep islami juga jadi tidak sembarangan kita membuatnya agar tidak bertentangan dengan islam.

Dan sekarang kita beralih pada Islami Sains. dan pertanyaanbnya sekarang adalah Apakah Islami Sains itu harus diislamkan?? Dan sekarang saya akan membahasnya.
Dan berbicara tentangb islami sains itu sendiri kalau menurut saya islami sains itu tidak harus diislamkan karena apa, karena sains itu sifatnya umum dan tidak mengkhusus. dan ada memang sains islam, sains islam itu adalah wacana yang sangat filosofis  yang berakar dari pemikiran mengenai hakikat ilmu di dalam islam. Dan alam didlam islam dikenal sebagai ayat Allah, suatu sebutan yang juga disematkan kepada kalimat-kalimat yang ada di dalam Al-Quran.

ALLAH  telah menciptakan manusia dengan banyak fungsi dan kegunaan. salah satunya yaitu ssebagai makhluk peneliti dengan landasan surah al`alaq ayat 1-5.


Artinya : “Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. (1) Bacalah (nyatakanlah) dengan nama Tuhan mu yang telah menciptakan (segala sesuatu di alam semesta ini). (2) Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah beku. (3) Bacalah (umumkanlah !) dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. (4) yang mengajarkan dengan pena. (5) Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.    

Dari ayat ini manusia dapat   meneliti apa-  apa yang ada di alam dengan dasar membaca terlebih dahulu.  karena membaca merupakan dasar untuk mennguasai suatu wawasan. 


MANUSIA SEBAGAI MAHLUK MORAL



MANUSIA SEBAGAI MAHLUK MORAL

Manusia juga disebut sebagai mahkluk yang bermoral. Moral merupakan aturan berperilaku tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.Di masyarakat kita ada aturanaturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengarahkan manusia untuk bergaul, berpakaian, bersikap, dan lain lain.

Dalam melakukan kegiatan sosial dan ekonominya, manusia hendaknya taat terhadap moral yang berlaku di masyarakat aga tidak merugikan pihak lain.Aturan tersebut bisa berkaitan dengan norma agama maupun norma kemasyarakatan. Contoh tindakan yang bermoral adalah berhemat, menggunakan sumber daya alam dengan baik, jujur, mengkonsumsi barang yang halal, menghargai sesama pemakai jalan, dan memelihara kelestarian alam. Apakah aturan lalu lintas yang kalian lihat pada gambar di halaman ini? Bisakah kalian menyimpulkan keberadaan atau hakekat manusia sebagai makhluk sosial yang bermoral? Makhluk ekonomi yang bermoral? Makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral? Manusia memiliki salingketergantungan satu sama lain, setiap orang membutuhkan kehadiran dan bantuan oranglain dalam pemenuhan kebutuhannya. Dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut, manusia diharapkan tetap memperhatikan aturan sosial yang berlaku di sekelilingnya dan menggunakan ilmu ekonomi yang baik sehingga tindakannya tidak merugikan orang lain. Misalnya Bu Laras adalah seorang pedagang. Ia bekerja dengan jujur dan tekun dalam melayani pembelinya karena sadar bahwa pembeli akan memberinya penghasilan
sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Ia memberikan timbangan yang sesuai, melayani dengan rama.
Manusia sebagai makhluk moral yang mendiami ruang spiritual ditandai dengan kemampuannya memahami, merasakan, dan memberi respon terhadap fakta-fakta moral.
Fakta-fakta moral ini dapat kita pahami melalui sebuah fakultas yang disebut kesadaran moral. Ciri utama manusia moral ialah kemampuannya untuk bertindak berdasarkan prinsip-prinsip moral, bukan oleh emosi atau naluri.
Misalnya, prinsip moral ini: kita berpuasa karena Allah! Meskipun berpuasa mengabaikan kebutuhan biologis dengan menahan lapar dan haus, namun kemampuan berpuasa yang mengambil kekuaran dari ranah spiritual itu, sekaligus menunjukkan identitasnya sebagai manusia moral dan mendemonstrasikan ketangguhan moralnya.

Ketangguhan moral dan karakter yang berkembang menuju keilahian, ditingkat kerja, menghasilkan kinerja-kinerja berskala dunia atau sukses berskala peradaban.

Dalam islam moral dikenal sebagai Akhlak yang mana akhlak atau moral ini digunakan manusia dalam berhubungan terhadap Tuhannya , makhluk lain dan alam sekitarnya.maka oleh sebab itu manusia juga disebut sebagai mahkluk yang bermoral. Moral merupakan aturan berperilaku tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.Di masyarakat kita ada aturan-aturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengarahkan manusia dalam bergaul, berpakaian, bersikap, dan lainlain.Dalam melakukan kegiatan sosial dan ekonominya, manusia hendaknya taat terhadap moral yang berlaku di masyarakat aga tidak merugikan pihak lain.Aturan tersebut bisa berkaitan dengan norma agama maupun norma kemasyarakatan. Contoh tindakan yang bermoral adalah berhemat, menggunakan sumber daya alam dengan baik, jujur, mengkonsumsi barang yang halal, menghargai sesama pemakai jalan, dan memelihara kelestarian alam. Apakah aturan lalu lintas yang kalian lihat pada gambar di halaman ini? Bisakah kalian menyimpulkan keberadaan atau hakekat manusia sebagai makhluk sosial yang bermoral? Makhluk ekonomi yang bermoral? Makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral? Manusia memiliki salingketergantungan satu sama lain, setiap orang membutuhkan kehadiran dan bantuan oranglain dalam pemenuhan kebutuhannya. Dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut, manusia diharapkan tetap memperhatikan aturan sosial yang berlaku di sekelilingnya dan menggunakan ilmu ekonomi yang baik sehingga tindakannya tidak merugikan orang lain. Dalam
.Manusia sebagai makhluk paling sempurna di mukabumi ini diciptakan-Nya sebagai khalifah, pemimpin dan penjaga amanat dari Allah. Manusia diberikan akal untuk berpikir, hati untuk merasakan kasih sayang , dan tubuh yang menjadi sarana untuk beribadah serta ber amaliah . Dari segala sesuatu yang telah dititipkan Allah kepada manusia , ada satu hal yang menjadi ukuran derajat seorang manusia dimuka bumi, yaitu akhlak. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya akidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap akidah dan syariah. Rasulullahshallallahu’alaihi wasallam merupakan suri tauladan bagi seluruh ummat.dalam suatu hadist yang artinya “ tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia” Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Sebagaimana pernyataan istri Nabi Muhammad yakni siti Aisyah R.A ”Akhlak beliau (Rasulullah) adalahAlquran.” (HR Abu Dawud dan Muslim)“ dan dalam Al-Quran juga diterangkan
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu(yaitu) bagi orang yang mengharap(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah”QS.Al-Ahzab ayat 21
Dan di samping itu Allah sendiri memuji bagaimana Akhlak Nabi Muhammad SAW
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”
Maka jelas dari reverensi di atas bahwasanya moral dalam diri manusia ialah kebutuhan pokok yang menunjang keharmonisan dalam suatu kehidupan. Dan Nabi Muhammad bersabda” Sebaik-baiknya manusia ialah yang berkhlak (terpuji) dan dari inilah bagaimana ummat manusia harus belajar kembali kepada  siapakah kita berkiblat dalam mencontoh akhlak atau moral yang akan kita aplikasikan dikehidupan ini terutama hubungan terhadap Tuhan dan hubungan terhadap manusia serta makhluk lain dan alam sekitar

MANUSIA MAKHLUK BUDAYA


MANUSIA MAKHLUK BUDAYA
Manusia sebagai makhluk berbudaya berarti manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk lain, yaitu manusia memiliki akal yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan ide dan gagasan yang selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sebagai catatan bahwa dengan pikirannya, manusia mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan kehendaknya, manusia mengarahkan perilakunya dan dengan perasaannya manusia dapat mencapai kebahagiaan. Tujuan dari pemahaman bahwa manusia sebagai makhluk budaya, agar dapat dijadikan dasar pengetahuan dalam mempertimbangkan dan mensikapi berbagai problematik budaya yang berkembang dimasyarakat sehingga manusia tidak semata-mata merupakan makhluk biologis saja, namun juga sebagai makhluk sosial, ekonomi, politik, dan makhluk budaya.
Manusia adalah salah satu makhluk Tuhan di dunia. Makhluk Tuhan dialam fana ini ada empat macam, yaitu alam, tumbuhan, binatang, dan manusia. Sifat–sifat yang dimiliki keempat makhluk Tuhan tersebut sebagai berikut.
1.      Alam memiliki sifat wujud
2.      Tumbuhan memiliki sifat hidup dan wujud
3.      Binatang memiliki sifat wujud, hidup dan dibekali nafsu
4.      Manusia memiliki sifat  wujud, hidup dibekali nafsu serta akal budi
Akal budi merupakan pemberian sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain terletak pada akal budi. Anugerah Tuhan akan akal budilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Akal adalah kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki. Berpikir merupakan perbuatan operasional dari akal yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup manusia. Jadi, fungsi dari akal adalah berpikir. Karena manusia yang dianugerahi akal maka manusia dapat berpikir. kemampuan berpikir manusia juga digunakan untuk memecahkan maslaah–masalah hidup yang dihadapi.
Dengan akal budinya, manusia mampu menciptakan, mengkreasi, memperlakukan, memperbarui, memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan hidup manusia. Contohnya manusia bisa membangun rumah, membuat aneka masakan, menciptakan beragam jenis       pakaian, membuat alat transportasi, sarana komunikasi dan lain–lain. Binatang pun bisa membuat rumah dan mencari makan. Akan tetapi, rumah dan makanan suatu jenis makanan tidak pernah berubah dan berkembang. Rumah burung (sarang) dari dulu sampai sekarang tetap saja wujudnya, tidak ada pembaharuan dan peningkatan. Manusia dengan kemampuan akal budinya bisa memperbaharui dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup.

Kehidupan manusia sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hubungan tersebut harus berjalan seimbang. Selain itu manusia juga diciptakan dengan sesempurna penciptaan, dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki. Hal ini diisyaratkan dalam surat At-Tiin: 4
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya”.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah menjadikan manusia makhluk ciptaan-Nya yang paling baik; badannya lurus ke atas, cantik parasnya, mengambil dengan tangan apa yang dikehendakinya; bukan seperti kebanyakan binatang yang mengambil benda yang dikehendakinya dengan perantaraan mulut. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.
Manusia juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di didik dengan berkesinambungan dari “dalam ayunan hingga ia wafat”, agar hasil dari pendidikan –yakni kebudayaan– dapat diimplementasikan dimasyaakat.
Manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Manusia juga akan mulai berpikir tentang bagaimana caranya menggunakan hewan atau binatang untuk lebih memudahkan kerja manusia dan menambah hasil usahannya dalam kaitannya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Manusia sangat mempunyai hasrat yang tinggi apabila dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Hasrat untuk selalu menambah hasil usahanya guna mempermudah lagi perjuangan hidupnya menimbulkan perekonomian dalam lingkungan kerja sama yang teratur. Hasrat disertai rasa keindahan menimbulkan kesenian. Hasrat akan mengatur kedudukannya dalam alam sekitarnya, dalam menghadapai tenaga-tenaga alam yang beraneka ragam bentuknya dan gaib, menimbulkan kepercayaan dan keagamaan. Hasrat manusia yang selalu ingin tahu tentang segala sesuatu disekitarnya menimbulkan ilmu pengetahuan.

Ada hakekatnya kebudayaan mempunyai dua segi, bagian yang tidak dapat dilepaskan hubungannya satu sama lain yaitu segi kebendaan dan segi kerohanian. Segi kebendaan yaitu meliputi segala benda buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya, serta bisa diraba. Segi kerohanian terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun teratur. Keduanya tidak bisa diraba.

Rabu, 19 Oktober 2016

MANUSIA MAKHLUK OTONOM

MANUSIA MAKHLUK OTONOM 

                  Sebagai makhluk otonom, manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sikap, dengan kata lain, ia adalah makhluk yang mandiri. Secara etimologi, Otonomi berasal dari bahasa Yunani “autos” yang artinya sendiri, dan “nomos” yang berarti hukum atau aturan, jadi pengertian otonomi adalah pengundangan sendiri. Otonom berarti berdiri sendiri atau mandiri. Jadi setiap orang memiliki hak dan kekuasaan menentukan arah tindakannya sendiri. Ia harus dapat menjadi tuan atas diri. Berbicara mengenai manusia bukanlah sesuatu yang mudah dan sederhana, karena manusia banyak memiliki keunikan. Keunikan tersebut dinyatakan sebagai kodrat manusia. Manusia sulit dipahami dan dimengerti secara menyeluruh tetapi manusia mempunyai banyak kekuatan-kekuatan spiritual yang mendorong seseorang mampu bekerja dan mengembangkan pribadinya secara mandiri. Arti otonom adalah mandiri dalam menentukan kehendaknya, menentukan sendiri setiap perbuatannya dalam pencapaian kehendaknya.

                  Allah telah memberikan akal budi yang membuat manusia tahu apa yang harus dilakukannya dan mengapa harus melakukannya. Dengan kemampuan akal budinya, manusia mampu membedakan hal baik dan buruk dan membuat keputusan berdasarkan suara hatinya dan mampu bersikap kritis terhadap berbagai pilihan hidup. Manusia adalah makhluk hidup, yang mampu memberdayakan akal budinya, maka manusia mempunyai berbagai kemampuan, yakni mampu berpikir, berkreasi, berinovasi, memberdayakan kekuatannya sehingga manusia tidak pernah berhenti. Allah memberi kebebasan kepada manusia. Meskipun kebenaran itu dari Allah, namun Allah tidak pernah memaksa manusia untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang ingin beriman, maka imanlah. Siapa yang ingin kafir, maka kafirlah. Pun demikian, Allah menciptakan manusia menurut fitrah beragama tauhid. Semua bayi yang lahir, mempunyai kesiapan untuk beragama Islam. Ketika ia besar, ia menjadi kafir atau memeluk agama selain Islam, maka itu adalah karena didikan dari orang tuanya.
Karena sesungguhnya, Allah tidak pernah menganiaya hamba-Nya. Jika ia sampai masuk ke neraka, itu tak lain karena ia sendirilah yang telah menganiaya dirinya sendiri.
Allah berfirman, “Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS Al Insyiqaaq 24)
Nikmat Allah sangat banyak dan sangat kita rasakan sebagai umat manusia. Diantaranya seperti nikmat hidup untuk semua mahluk hidup di dunia ini dan tanpa terkecuali. Fasilitas hidup di dunia juga yang sangat kita perlukan seperti halnya oksigen dan air. Oksigen dan air sebenarnya adalah nikmat yang seutuhnya Allah berikan untuk kita, namun karena keserakahan manusia, semua hal itu terasa semakin susah kita dapatkan. Layaknya air bersih yang sebenarnya nikmat dari Allah secara cuma-cuma, menjadi kebutuhan yang susah didapat bagi beberapa wilayah. Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya untuk mendapatkan air bersih dan juga membayar mahal untuk itu.
Kita sering sekali terkadang terlena dan menyepelekan beberapa nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Seperti halnya nikmat akal yang hanya diberikan kepada umat manusia. Akal yang sudah dibedakan menjadi akal baik dan buruk, terkadang digunakan untuk mencari dan melakoni hal yang tidak baik. Padahal, sebagai manusia kita sudah dipercaya oleh Allah untuk bisa membedakan mana hal baik dan buruk. Kita hanya bisa bicara “ini baik, ini buruk” tanpa melakukannya dengan sebenar-benarnya.
                  Nikmat Allah juga sudah dijelaskan pada Al-Qur’an, yaitu pada Surat Al-Qashash ayat 56-66 :
  إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (٥٦) وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٥٧) وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلا قَلِيلا وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ (٥٨) وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ (٥٩)
56. [1]Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
57. Dan mereka[2] berkata, "Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir[3] dari negeri kami.” (Allah berfirman), “Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman[4], yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
58. Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya[5] yang telah Kami binasakan, maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali sebagian kecil[6]. Dan Kamilah yang mewarisinya[7].”
59. [8]Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibukotanya[9] yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka[10]; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri; kecuali penduduknya melakukan kezaliman[11].
Adapun juga nikmat yang juga seringkali dilupakan manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang. Disaat kita sehat, terkadang kita lupa segalanya. Semua terasa berjalan dengan lancar, tanpa masalah. Juga dengan kesehatan kita itu, kita mengabaikannya dengan pola hidup tidak sehat dan merasa seolah tindakan kita itu benar. Dan apabila sudah jatuh sakit, barulah terasa banyak hambatan dan ternyata sehat itu segalanya. Begitupun dengan waktu senggang, manusia seringkali menjalaninya dengan salah. Sebenarnya, jika ada waktu senggang yang sebenarnya merupakan nikmat dari Allah, kita diharapkan mampu mengisi waktu luang tersebut dengan kegiatan positif. Sebelumnya kita mungkin sangat lelah dengan beribu aktivitas kita, namun disaat ada waktu senggang? Ya, kita memang terkadang salah tanpa kita sadari. Seringkali umat manusia malah mengambil kegiatan negatif yang merugikan dirinya sendiri. Parahnya lagi, terkadang umat manusia seolah merencanakan hal-hal negatif yang dapat dilakukannya dalam waktu senggang, seperti misalnya mencuri, membunuh, dan lainnya yang buruk.